Jurnal Refleksi Minggu Ke 22 Modul 3.3
Pengelolaan program yang berdampak pada Murid
Model
1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)
4F
merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan
menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang
sedang terjadi pada saat penulisan jurnal):
1.
Facts (Peristiwa):
Pada
Minggu ke 22 ini,saya memasuki modul 3.3 mempelajari modul dengan tema
Pengelolaan Program yang berdampak pada Murid.Pada tema ini guru harus
melibatkan murid dalam kegiatan di kelas maupun di sekolah. Guru hanya
mendampingi dan mengurangi kontrol terhadap siswa dalam melaksanakan
Program. Banyak sekali materi baru yang bisa saya rasakan yang memberikan
dampak positif bagi saya dan sekolah. Saya merasa senang bisa mempelajari dan
menerapkan materi-materi yang ada di dalam modul. Selama mengikuti proses pembelajaran
modul 3.3 ini yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, mulai dari diri, eksplorasi
konsep.
Konsep
kepemimpinan murid merupakan upaya untuk membangun sikap kepemimpinan dalam
diri siswa agar menjadi siswa yang bertanggung jawab, siswa yang dapat
menjalankan perannya sebagai siswa serta siswa yang dapat mengembangkan
potensinya sebagai seorang pribadi. saat murid memiliki agency, maka mereka
sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan
(ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan
kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi
seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru
sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid
memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat
yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana
mereka merefleksikan tindakan mereka.
2. Feeelings (Perasaan)
Dengan
mempelajari modul yang ada di LMS ini khususnya modul yang berkaiatan dengan
kepemimpinan yang berdampak pada murid, saya merasa senang dan penasaran dengan
materi tersebut karena selama ini dalam membuat sebuah peraturan kelas, ataupun
kegiatan di kelas maupun di sekolah siswa belum banyak terlibat secara
langsung. Dengan mempelajari modul ini, saya mulai paham bagaimana seorang guru
harus melibatkan siswa dalam sebuah program yang ada di kelas atau sekolah. Langkah
yang harus dilaksanakan guru dalam upaya mendorong dan mempromosikan suara (voice),
pilihan (choise) serta kepemilikan (ownership) di kelas maupun sekolah adalah dengan
mengajak murid berdiskusi dan bermusyawarah dalam menentukan program kelas dan
sekolah. Dengan memberikan kesempatan murid untuk memilih bagaimana
mereka mendemonstrasikan
pemahamannya tentang apa yang telah mereka pelajari, Memberikan kesempatan pada
murid untuk memilih dan mengambil peran yang dapat mereka ambil dalam sebuah
kegiatan/program. Memberikan kesempatan murid untuk mengelola pengaturan
kegiatan serta Memberikan murid kesempatan untuk memilih kelompok.
3.
Findings (pembelajaran)
Pelajaran
yang saya dapatkan dari kegiatan di modul 3.3 ini adalah peran seorang guru
dalam membuat sebuah kepemimpin murid di kelas dan sekolah. Peran guru tidak
hanya sekedar mengajar, atau memerintah murid, tetapi memiliki peran yang lebih
besar yaitu mengajak murid untuk ikut peran serta secara aktif dalam membuat
sebuah program kelasmaupun sekolah, merencanakan, melaksanakan, serta melakukan
evaluasi program. Guru harus memberikan kesempatan yang sama kepada murid dalam
hal mempromosikan suara (voice), pilihan (choise) serta kepemilikan (ownership)
di kelasatau sekolah. Guru hanya bertugas melakukan pendampingan serta
mengurangi kontrol kepada murid.
4.
Future (Penerapan)
Langkah
yang harus saya lakukan sebagai seorang guru di sekolah adalah mengajak rekan
guru, kepala sekolah serta wali murid untuk saling berkolaborasi mewujudkan
kepemimpin pembelaajaran yang berdampak pada murid. Saya harus melakukan
identifikasi 7 kekuatan aset yang dimiliki oleh sekolah. Diantaranya modal
manusia, modal fisik, modal sosial, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal
politik serta modal agama dan budaya. Semua aspek biotik dan abiotik dalam
komunitas sekolah harus saling berkolaborasi, melakukan komunikasi untuk
menciptakan sebuah lingkungan sekolah yang aman, nyaman untuk kegiatan belajar
murid. Misalkan di lingkungan sekolah saya yang dekat dengan persawahan, bisa
dijadikan sebagai media pembelajaran anak didik sebagai tempat belajar
sekaligus sebagai tempat berwisata. Mereka kita ajak berdiskusi tentang
ekosistem sawah. Mereka kita dampingi dan kita ajak langsung ke sawah agar
belajar secara langsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar