JURNAL REFLEKSI 23
M. AGUD IRWANTO
SD NEGERI 5 KATERBAN
CGP
ANGKATAN 4 KABUPATEN NGANJUK
Model 1: 4F (Facts, Feelings,
Findings, Future)
4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh
Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan
sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat
penulisan jurnal):
1. Facts (Peristiwa):
Pada Minggu ke 23 ini, saya memasuki modul 3.3
mempelajari modul dengan tema Pengelolaan Program yang berdampak pada Murid. Pada
tema ini guru harus melibatkan murid dalam kegiatan di kelas maupun di sekolah.
Guru hanya mendampingi dan mengurangi kontrol terhadap siswa dalam melaksanakan
Program. Banyak sekali materi baru yang bisa saya rasakan yang memberikan
dampak positif bagi saya dan sekolah. Saya merasa senang bisa mempelajari dan
menerapkan materi-materi yang ada di dalam modul. Selama mengikuti proses
pembelajaran modul 3.3 ini yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, mulai dari
diri, eksplorasi konsep, forum diskusi serta demontrasi kontekstual. Konsep
kepemimpinan murid merupakan upaya untuk membangun sikap kepemimpinan dalam
diri siswa agar menjadi siswa yang bertanggung jawab, siswa yang dapat
menjalankan perannya sebagai siswa serta siswa yang dapat mengembangkan
potensinya sebagai seorang pribadi. saat murid memiliki agency, maka mereka
sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership)
dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah
murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi
proses belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan
lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan
kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan,
bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan
tindakan mereka.
2. Feeelings (Perasaan)
Dengan mempelajari modul yang ada di LMS ini khususnya modul yang berkaiatan dengan kepemimpinan yang berdampak pada murid, saya merasa senang dan penasaran dengan materi tersebut karena selama ini dalam membuat sebuah peraturan kelas, ataupun kegiatan di kelas maupun di sekolah siswa belum banyak terlibat secara langsung. Dengan mempelajari modul ini, saya mulai paham bagaimana seorang guru harus melibatkan siswa dalam sebuah program yang ada di kelas atau sekolah. Langkah yang harus dilaksanakan guru dalam upaya mendorong dan mempromosikan suara (voice), pilihan (choise) serta kepemilikan (ownership) di kelas adalah mengajak murid berdiskusi dan bermusyawarah dalam menentukan program kelas. Memberikan kesempatan murid untuk memilih bagaimana mereka mendemonstrasikan pemahamannya tentang apa yang telah mereka pelajari, Memberikan kesempatan pada murid untuk memilih peran yang dapat mereka ambil dalam sebuah kegiatan / program. Memberikan kesempatan murid untuk mengelola pengaturan kegiatan serta Memberikan murid kesempatan untuk memilih kelompok.
3. Findings (pembelajaran)
Pelajaran yang saya dapatkan dari kegiatan di modul
3.3 ini adalah peran seorang guru dalam membuat sebuah kepemimpin murid di
kelas. Peran guru tidak hanya sekedar mengajar, atau memerintah murid, tetapi
memiliki peran yang lebih besar yaitu mengajak murid untuk ikut peran serta
secara aktif dalam membuat sebuah program kelas, merencanakan, melaksanakan, serta
melakukan evaluasi program. Guru harus memberikan kesempatan yang sama kepada
murid dalam hal mempromosikan suara(voice), pilihan(choise) serta kepemilikan (ownership)
di kelas. Guru hanya bertugas melakukan pendampingan serta mengurangi kontrol
kepada murid.
4. Future (Penerapan)
Langkah yang harus saya lakukan sebagai seorang
guru di sekolah adalah mengajak rekan guru, kepala sekolah serta wali murid
untuk saling berkolaborasi mewujudkan kepemimpin pembelaajaran yang berdampak
pada murid. Saya harus melakukan identifikasi 7 kekuatan aset yang dimiliki
oleh sekolah. Diantaranya modal manusia, modal fisik, modal sosial, modal
lingkungan / alam, modal finansial, modal politik serta modal agama dan budaya.
Semua aspek biotik dan abiotik dalam komunitas sekolah harus saling
berkolaborasi, melakukan komunikasi untuk menciptakan sebuah lingkungan sekolah
yang aman, nyaman untuk kegiatan belajar murid. Misalkan di lingkungan sekolah
saya yang dekat dengan persawahan, bisa dijadikan sebagai media pembelajaran
anak didik saya mengenai materi ekosistem sawah dan tempat wisata edukasi. Mereka
kita ajak berdiskusi tentang ekosistem sawah. Mereka kita dampingi dan kita
ajak langsung ke sawah agar belajar secara langsung tentang sebuah ekosistem
dan tempat wisata edukasi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar