JURNAL REFLEKSI MINGGU 18
M. AGUD IRWANTO, S.Pd
SD NEGERI 5 KATERBAN
Jurnal refleksi berdasarkan model
5 M
Model 6: Reporting, responding,
relating, reasoning, reconstructing (5R)
Model refleksi 5M diadaptasi dari model 5R (Bain, dkk, 2002, dalam Ryan & Ryan, 2013). 5M terdiri dari langkah-langkah berikut:
Assalamu'alaikum, wr.wb
Sesi
belajar yang memasuki tahap refleksi terbimbing, demonstrasi kontekstual, dan
elaborasi pemahaman (sesi bersama instruktur Bapak Feri Taupik Ridwan).
Refleksi
terbimbing (hari senin, tanggal 18 April 2022), di LMS telah disediakan
pertanyaan, CGP menjawab pertanyaan yang telah disediakan. Intinya hal ini
mengulik kembali pelajaran yang telah lalu. Merenungkan kembali apa saja yang
sudah didapatkan dari sesi mulai dari diri hingga bersama fasilitator, termasuk
bagaimana dampak yang didapat, serta seberapa penting mempelajari modul 3.1
tentang pengambilan keputusan yang etis dan bijaksana.
Setelah
itu, tahap demonstrasi kontekstual (hari selasa dan rabu tanggal 19-20 April
2022), mengajak kami membuat jurnal monolog. Jurnal ini dapat berupa tulisan naratif
maupun sebuah video atau audio yang direkam sendiri. Isi atau konten
diberi jatah durasi 3-5 menit, sesuai pertanyaan panduan yang telah
disediakan.
Ada
empat pertanyaan yang membingkai karya demonstrasi kontekstual ini. Pertanyaan
tentang komitmen berbagi, menyusun rencana, melaksanakan, termasuk yang akan
mendampingi kegiatan sosialisasi kegiatan guru penggerak pada tahap pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saya memilih menulis naratif, karena
menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan dan menyalurkan kata hati.
Pada
hari kamis dan jumat tanggal 21 sampai 22 April 2022 merupakan fase belajar
bersama instruktur. Iya ini sesi dalam alur MERRDEKA berada pada sesi Elaborasi
konsep.
Tahap
ini akan memantapkan pemahaman yang kami peroleh sebelumnya. Selama lebih
kurang satu jam setengah kami bersama rekan CGP lintas wilayah berkumpul dalam
gmeet yang diasuh oleh intsruktur handal Bapak Dianindah Apriyani.
Semakin
saya memahami perbedaan dilema etika dan bujukan moral dengan menggunakan uji
instrumen yang disediakan yaitu 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan.
Pada
sembilan langkah ini terkandung, nilai-nilai kebajikan yang universal, 4
paradigma pengambilan keputusan, serta 3 prinsip dalam pengambilan keputusan
Adapun
langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam pengambilan keputusan sebagai
pemimpin pembelajaran yaitu: mengenali tentang nilai-nilai yang bertentangan
pada kasus yang dihadapi, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi
tersebut, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, melakukan
pengujian benar salah (uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, uji
panutan/idola). Berhenti dahulu pada tahap ini sambil mindfulness.
Pengujian
tahap ini perlu diperhatikan, jika sudah tidak lolos berbagai uji di sini maka
dapat disimpulkan sebagai bujukan moral. Pengujian lebih lanjut tidak perlu
dilakukan.
namun
jika lolos uji pada tahap keempat, masalah atau kasus tersebut merupakan dilema
etika. Maka perlu pengujian paradigma benar lawan benar menggunakan empat
paradigma (individu vs masyarakat, rasa keadilan vs rasa kasihan, kebenaran vs
kesetiaan, jangka pendek vs jangka panjang), melakukan prinsip resolusi
menggunakan tiga prinsip dalam pengambilan keputusan (berpikir berbasis hasil
akhir, berpikir berbasis peraturan, berpikir berbasis rasa peduli), Melakukan
investigasi opsi trilema ( yang muncul menawarkan ide kreatif solusi masalah
yang sedang dihadapi), membuat keputusan, serta merefleksikan keputusan yang
sudah diambil.
Sebuah
keputusan akan sangat menentukan nasib dari yang terlibat pada kasus yang
ditangani. Tujuan akhir dari akibat suatu keputusan adalah win-win solution.
yang kedua adalah Merespon/ Responding:
menjabarkan tanggapan yang diberikan dalam menghadapi peristiwa yang
diceritakan, misalnya melalui pemberian opini, pertanyaan, ataupun tindakan
yang diambil saat peristiwa berlangsung.
Saya
merasa tertantang karena materi ini adalah materi baru bagi saya. Dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan, tak jarang saya membuka kembali modul, bahan ajar,
maupun browsing di internet.
Saya
bersemangat dalam pembelajaran, terutama dalam ruang refleksi terbimbing dan
demonstrasi kontekstual maupun elaborasi pemahaman. Saya bisa berbagi
pengalaman dan menemukan inspirasi dari pengalaman rekan lain ketika menyimak
pendapat-pendapat saat berdiskusi bersama instruktur. Saya selalu berusaha
menyelesaikan setiap tugas dengan baik dan tepat waktu.
yang ketiga adalah Mengaitkan/ Relating:
menghubungkan kaitan antara peristiwa dengan pengetahuan, keterampilan,
keyakinan atau informasi lain yang dimiliki.
Pengambilan
keputusan sangat berkaitan erat dengan keseharian menjadi guru maupun orang tua
di rumah. Tentu untuk dapat berperan sebagai pengambilan keputusan yang
berpihak pada murid, memerlukan perubahan paradgima terhadap murid itu sendiri,
melatih menjadi coach, melatih diri mengelola emosi, serta menempatakan diri
sebagai teman maupun manajer sebagai posisi kontrol, serta memiliki visi dan
misi yang jelas. Modul ini, sangat erat dengan modul-modul sebelumnya sebagai
pondasi yang kuat tertancap disanubari seorang guru penggerak sebagai pemimpin
pembelajaran.
Dalam
mengambil solusi atas permasalahan, guru hendaknya bertindak sebagai manajer
yang menyadarkan murid atas kesalahannya, menguatkan keyakinan murid, dan
mengarahkan untuk memperbaiki diri. Pengambilan keputusan yang tepat berpedoman
pada: berpihak pada murid, meningkatkan mutu pembelajaran, serta dapat
dipertanggung jawabkan.
Oleh
karena itu, ada instrumen yang perlu dipegang dalam pengambilan keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran yaitu 4,3, dan 9. Empat paradigma, tiga
prinsip, dan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan
Inilah
yang akan menuntun kita mengambil keputusan yang etis dan bijaksana, tidak
terjebak oleh bujukan moral. Meskipun tidak akan ada yang dapat dipuaskan
semuanya, pasti akan ada kontradiksi, dan itu lumrah.
yang keempat adalah Menganalisis/
Reasoning: menganalisis dengan detail mengapa peristiwa tersebut dapat
terjadi, lalu mengambil beberapa perspektif lain, misalnya dari teori atau
kejadian lain yang serupa, untuk mendukung analisis tersebut.
Pengambilan
keputusan di sekolah selama ini, ada yang bertentangan dengan hati nurani atau
nilai-nilai kebajikan universal. Misalnya ketika ada murid yang tidak layak
naik kelas, tetapi harus naik, begitupun kelulusan.
Ketika
menghadapi murid yang bermasalah, terkadang posisi guru menjadi dilema yang
terkadang merusak hubungan personal sesama guru maupun kepala sekolah.
Namun,
setelah mempelajari modul ini, dimana kiblat dikembalikan kepada nilai-nilai
kebajikan yang universal, 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah, membuka ruang
hati agar lebih bijaksana dan legowo demi keberhasilan murid. Karena murid yang
dihadapan kita bermasalah, masa depannya belum suram. Intinya, memuliakan murid
dengan bersikap adil dan bijaksana.
Sebuah
kecardasan yang harus dimilki guru selain kecerdasan emosional dan spiritual
adalah kecerdasan mengatasi masalah (Adversity Quotion). Kita akan memiliki
daya lenting yang kuat dalam menghadapi masalah yang tidak terduga.
Kecerdasan
ini tergantung dengan respon pertama yang diberikan terhadap masalah yang
datang. Jika menempatkannya sebagai tantangan, maka segenap jiwa akan
menakhlukkannya, begitupun sebaliknya.
yang kelima, yaitu: Merancang ulang/
Reconstructing: menuliskan rencana alternatif jika menghadapi kejadian
serupa di masa mendatang.
Untuk
menghadapi kegiatan pembelajaran selanjutnya, saya berkeyakinan bahwa saya
mampu melakukannya. Pengalaman belajar selama ini telah membekali diri saya
dengan kemampuan belajar mandiri, berpikir kritis, kreativitas menemukan solusi
permasalahan, mampu berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas, dan komunikatif
dalam menyampaikan ide/gagasan, serta pantang menyerah.
Di
kelas, saya akan menyelesaikan masalah dengan percaya diri menggunakan uji
instrumen 9 langkah pengambilan keputusan. Apabila memukan murid bermasalah,
saya bisa mengambil keputusan jika merupakan sebuah dilema etika dan tidak
terperangkap pada bujukan moral.
Demikian
Jurnal Refleksi Minggu Ke-18, semoga bermanfaat. Sampai jumpa lagi.....Salam
dan Bahagia
wassalamu'alaikum, wr.wb

Tidak ada komentar:
Posting Komentar