JURNAL 24
M. AGUD IRWANTO
SD NEGERI 5 KATERBAN
CGP
ANGKATAN 4 KABUPATEN NGANJUK
Model 4C (Connection, Challenge,
Concept, Change)
CONNECTION
Pada pekan ini saya telah
mempelajari modul 3.3 tentang Pengelolaan Program Berdampak pada Murid, pada minggu
terakhir ini kami CGP diawali sesi elaborasi bersama instruktur tentang sebuah
program atau kegiatan sekolah yang dapat dilaksanakan di sekolah terkait dengan
mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid untuk menjadikan murid
sebagai pemimpin dalam pembelajarannya sendiri. Selanjutnya koneksi antar materi
dan aksi nyata tentang program sekolah yang berdampak pada murid sangat penting
untuk diimplementasikan di sekolah karena akan menumbuhkan karakter dan
kemampuan aktualisasi diri siswa agar lebih berkembang. Sekolah memberikan
fasilitas dan pendampingan pada murid dalam mengembangkan program sekolah agar
dapat bermanfaat bagi murid.
CHALLENGE
Pembelajaran pada modul ini
memberikan dampak positif bagi CGP dalam mengembangkan sumber daya dan
kemampuan yang dimiliki oleh sekolah dalam bentuk program sekolah yang
berdampak pada murid. Pada pembelajaran modul ini mengajarkan kita untuk mampu
dalam proses pengambilan keputusan, hal ini dapat memberikan pembelajaran dan
latihan kepada murid untuk dapat memecahkan masalah dan mampu dalam pengambilan
keputusan. Bahwasannya, murid memiliki kemampuan untuk mengambil bagian atau
peranan dalam proses pembelajaran mereka sendiri. Saya sebagai guru yang
mendampingi murid dalam membuat sebuah keputusan akan selalu memberikan arahan
dan menggali kemampuan serta potensi mereka dalam pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab.
CONCEPT
Pada pembelajaran modul ini
memiliki konsep kepemimpinan murid yang sebenarnya berakar pada prinsip bahwa
murid memiliki kemampuan dan keinginan secara positif yang mempengaruhi
kehidupan murid dimasa mendatang. Kepemimpinan murid adalah tentang bagaimana
murid dapat bertindak secara aktif, dan mampu membuat keputusan serta membuat
pilihan yang bertanggung jawab. Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran
aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta
antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan
menjadi bersifat kemitraan.
Saat murid menjadi pemimpin dalam
proses pembelajaran mereka sendiri maka mereka sebenarnya memiliki suara
(voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses
pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid
kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses
belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan
lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan
kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan,
bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan
tindakan mereka.
Apa sebenarnya Suara, Pilihan ,
dan Kepemilikan Murid itu?
1. Suara Murid (voice)
Ketika kita berbicara tentang
"suara" murid, maka kita sebenarnya bukan hanya berbicara tentang
memberi murid kesempatan untuk mengomunikasikan ide dan pendapat. Lebih luas
dari ini, mempertimbangkan suara murid adalah tentang bagaimana kita
memberdayakan murid kita agar memiliki kekuatan untuk memengaruhi perubahan.
Suara murid yang otentik memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi
dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka
belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai.
Mempromosikan suara murid dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dalam banyak cara. Suara murid dapat ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, merelevansikan pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya.
2. Pilihan Murid
(Choice)
Memberikan pilihan pada murid
dapat memberdayakan murid, mendorong keterlibatan dalam pembelajaran, dan
mengenalkan pada minat pribadi dalam pengalaman belajar (Aiken et al, 2016).
Selain itu, memberikan murid pilihan juga meningkatkan motivasi dan otonomi
murid, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi
murid (Bandura, 1997).
3. Kepemilikan Murid
(ownership)
Voltz DL, Damiano-Lantz M. dalam
artikel penelitiannya yang berjudul Developing Ownership in Learning. Teaching
Exceptional Children (1993;25(4):18-22) menjelaskan bahwa kepemilikan dalam
belajar (ownership in learning) sebenarnya mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan
aktif, dan minat pribadi seseorang dalam proses belajar. Jadi dengan kata lain,
saat murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa
yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses
belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka
terhadap proses belajar tinggi.
CHANGE
Setelah mempelajari modul 3.3 mengenai program sekolah yang berdampak pada murid, saya merasa senang dan termotivasi untuk menggali aset dan sumber daya yang dimiliki sekolah agar dapat disusun sebuah program kegiatan bagi murid. Program sekolah ini mampu memberikan dampak positif bagi murid dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, gotong royong, kreatif dan mampu mengambil keputusan. Berdasarkan pengalaman ini, saya akan menerapkan dalam pembelajaran intrakulikuler di kelas dan kokulikuler dalam bentuk kegiatan yang berkaitan dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila


