Minggu, 19 Juni 2022

JURNAL REFLEKSI 24

 

JURNAL 24

 

M. AGUD IRWANTO

SD NEGERI 5 KATERBAN

CGP ANGKATAN 4 KABUPATEN NGANJUK

Model 4C (Connection, Challenge, Concept, Change)


CONNECTION

Pada pekan ini saya telah mempelajari modul 3.3 tentang Pengelolaan Program Berdampak pada Murid, pada minggu terakhir ini kami CGP diawali sesi elaborasi bersama instruktur tentang sebuah program atau kegiatan sekolah yang dapat dilaksanakan di sekolah terkait dengan mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid untuk menjadikan murid sebagai pemimpin dalam pembelajarannya sendiri. Selanjutnya koneksi antar materi dan aksi nyata tentang program sekolah yang berdampak pada murid sangat penting untuk diimplementasikan di sekolah karena akan menumbuhkan karakter dan kemampuan aktualisasi diri siswa agar lebih berkembang. Sekolah memberikan fasilitas dan pendampingan pada murid dalam mengembangkan program sekolah agar dapat bermanfaat bagi murid.

CHALLENGE

Pembelajaran pada modul ini memberikan dampak positif bagi CGP dalam mengembangkan sumber daya dan kemampuan yang dimiliki oleh sekolah dalam bentuk program sekolah yang berdampak pada murid. Pada pembelajaran modul ini mengajarkan kita untuk mampu dalam proses pengambilan keputusan, hal ini dapat memberikan pembelajaran dan latihan kepada murid untuk dapat memecahkan masalah dan mampu dalam pengambilan keputusan. Bahwasannya, murid memiliki kemampuan untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses pembelajaran mereka sendiri. Saya sebagai guru yang mendampingi murid dalam membuat sebuah keputusan akan selalu memberikan arahan dan menggali kemampuan serta potensi mereka dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

CONCEPT

Pada pembelajaran modul ini memiliki konsep kepemimpinan murid yang sebenarnya berakar pada prinsip bahwa murid memiliki kemampuan dan keinginan secara positif yang mempengaruhi kehidupan murid dimasa mendatang. Kepemimpinan murid adalah tentang bagaimana murid dapat bertindak secara aktif, dan mampu membuat keputusan serta membuat pilihan yang bertanggung jawab. Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat kemitraan.

Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka.

Apa sebenarnya Suara, Pilihan , dan Kepemilikan Murid itu?

1. Suara Murid (voice)

Ketika kita berbicara tentang "suara" murid, maka kita sebenarnya bukan hanya berbicara tentang memberi murid kesempatan untuk mengomunikasikan ide dan pendapat. Lebih luas dari ini, mempertimbangkan suara murid adalah tentang bagaimana kita memberdayakan murid kita agar memiliki kekuatan untuk memengaruhi perubahan. Suara murid yang otentik memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai.

Mempromosikan suara murid dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dalam banyak cara. Suara murid dapat ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, merelevansikan pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya.

2. Pilihan Murid (Choice) 

Memberikan pilihan pada murid dapat memberdayakan murid, mendorong keterlibatan dalam pembelajaran, dan mengenalkan pada minat pribadi dalam pengalaman belajar (Aiken et al, 2016). Selain itu, memberikan murid pilihan juga meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi murid (Bandura, 1997).

 3. Kepemilikan Murid (ownership)

Voltz DL, Damiano-Lantz M. dalam artikel penelitiannya yang berjudul Developing Ownership in Learning. Teaching Exceptional Children (1993;25(4):18-22) menjelaskan bahwa kepemilikan dalam belajar (ownership in learning) sebenarnya mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan minat pribadi seseorang dalam proses belajar. Jadi dengan kata lain, saat murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi.

CHANGE

Setelah mempelajari modul 3.3 mengenai program sekolah yang berdampak pada murid, saya merasa senang dan termotivasi untuk menggali aset dan sumber daya yang dimiliki sekolah agar dapat disusun sebuah program kegiatan bagi murid. Program sekolah ini mampu memberikan dampak positif bagi murid dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, gotong royong, kreatif dan mampu mengambil keputusan. Berdasarkan pengalaman ini, saya akan menerapkan dalam pembelajaran intrakulikuler di kelas dan kokulikuler dalam bentuk kegiatan yang berkaitan dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila

Sabtu, 11 Juni 2022

JURNAL REFLEKSI 23

 

JURNAL REFLEKSI 23

M. AGUD IRWANTO

SD NEGERI 5 KATERBAN

CGP ANGKATAN 4 KABUPATEN NGANJUK

Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)

4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal):



1. Facts (Peristiwa): 

Pada Minggu ke 23 ini, saya memasuki modul 3.3 mempelajari modul dengan tema Pengelolaan Program yang berdampak pada Murid. Pada tema ini guru harus melibatkan murid dalam kegiatan di kelas maupun di sekolah. Guru hanya mendampingi  dan mengurangi kontrol terhadap siswa dalam melaksanakan Program. Banyak sekali materi baru yang bisa saya rasakan yang memberikan dampak positif bagi saya dan sekolah. Saya merasa senang bisa mempelajari dan menerapkan materi-materi yang ada di dalam modul. Selama mengikuti proses pembelajaran modul 3.3 ini yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, mulai dari diri, eksplorasi konsep, forum diskusi serta demontrasi kontekstual. Konsep kepemimpinan murid merupakan upaya untuk membangun sikap kepemimpinan dalam diri siswa agar menjadi siswa yang bertanggung jawab, siswa yang dapat menjalankan perannya sebagai siswa serta siswa yang dapat mengembangkan potensinya sebagai seorang pribadi. saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka. 

2. Feeelings (Perasaan)

Dengan mempelajari modul yang ada di LMS ini khususnya modul yang berkaiatan dengan kepemimpinan yang berdampak pada murid, saya merasa senang dan penasaran dengan materi tersebut karena selama ini dalam membuat sebuah peraturan kelas, ataupun kegiatan di kelas maupun di sekolah siswa belum banyak terlibat secara langsung. Dengan mempelajari modul ini, saya mulai paham bagaimana seorang guru harus melibatkan siswa dalam sebuah program yang ada di kelas atau sekolah. Langkah yang harus dilaksanakan guru dalam upaya mendorong dan mempromosikan suara (voice), pilihan (choise) serta kepemilikan (ownership) di kelas adalah mengajak murid berdiskusi dan bermusyawarah dalam menentukan program kelas. Memberikan kesempatan murid  untuk memilih bagaimana mereka mendemonstrasikan pemahamannya tentang apa yang telah mereka pelajari, Memberikan kesempatan pada murid untuk memilih peran yang dapat mereka ambil dalam sebuah kegiatan / program. Memberikan kesempatan murid untuk mengelola pengaturan kegiatan serta Memberikan murid kesempatan untuk memilih kelompok.

3. Findings (pembelajaran)

Pelajaran yang saya dapatkan dari kegiatan di modul 3.3 ini adalah peran seorang guru dalam membuat sebuah kepemimpin murid di kelas. Peran guru tidak hanya sekedar mengajar, atau memerintah murid, tetapi memiliki peran yang lebih besar yaitu mengajak murid untuk ikut peran serta secara aktif dalam membuat sebuah program kelas, merencanakan, melaksanakan, serta melakukan evaluasi program. Guru harus memberikan kesempatan yang sama kepada murid dalam hal mempromosikan suara(voice), pilihan(choise) serta kepemilikan (ownership) di kelas. Guru hanya bertugas melakukan pendampingan serta mengurangi kontrol kepada murid.

4. Future (Penerapan)

Langkah yang harus saya lakukan sebagai seorang guru di sekolah adalah mengajak rekan guru, kepala sekolah serta wali murid untuk saling berkolaborasi mewujudkan kepemimpin pembelaajaran yang berdampak pada murid. Saya harus melakukan identifikasi 7 kekuatan aset yang dimiliki oleh sekolah. Diantaranya modal manusia, modal fisik, modal sosial, modal lingkungan / alam, modal finansial, modal politik serta modal agama dan budaya. Semua aspek biotik dan abiotik dalam komunitas sekolah harus saling berkolaborasi, melakukan komunikasi untuk menciptakan sebuah lingkungan sekolah yang aman, nyaman untuk kegiatan belajar murid. Misalkan di lingkungan sekolah saya yang dekat dengan persawahan, bisa dijadikan sebagai media pembelajaran anak didik saya mengenai materi ekosistem sawah dan tempat wisata edukasi. Mereka kita ajak berdiskusi tentang ekosistem sawah. Mereka kita dampingi dan kita ajak langsung ke sawah agar belajar secara langsung tentang sebuah ekosistem dan tempat wisata edukasi.




Rabu, 08 Juni 2022

Jurnal Refleksi Minggu Ke 22 Modul 3.3 Pengelolaan program yang berdampak pada Murid

 

Jurnal Refleksi Minggu Ke 22 Modul 3.3 

Pengelolaan program yang berdampak pada Murid


Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)

4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal):

1. Facts (Peristiwa): 

Pada Minggu ke 22 ini,saya memasuki modul 3.3 mempelajari modul dengan tema Pengelolaan Program yang berdampak pada Murid.Pada tema ini guru harus melibatkan murid dalam kegiatan di kelas maupun di sekolah. Guru hanya mendampingi  dan mengurangi kontrol terhadap siswa dalam melaksanakan Program. Banyak sekali materi baru yang bisa saya rasakan yang memberikan dampak positif bagi saya dan sekolah. Saya merasa senang bisa mempelajari dan menerapkan materi-materi yang ada di dalam modul. Selama mengikuti proses pembelajaran modul 3.3 ini yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, mulai dari diri, eksplorasi konsep.

Konsep kepemimpinan murid merupakan upaya untuk membangun sikap kepemimpinan dalam diri siswa agar menjadi siswa yang bertanggung jawab, siswa yang dapat menjalankan perannya sebagai siswa serta siswa yang dapat mengembangkan potensinya sebagai seorang pribadi. saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas kita sebagai guru sebenarnya hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka. 

2. Feeelings (Perasaan)

Dengan mempelajari modul yang ada di LMS ini khususnya modul yang berkaiatan dengan kepemimpinan yang berdampak pada murid, saya merasa senang dan penasaran dengan materi tersebut karena selama ini dalam membuat sebuah peraturan kelas, ataupun kegiatan di kelas maupun di sekolah siswa belum banyak terlibat secara langsung. Dengan mempelajari modul ini, saya mulai paham bagaimana seorang guru harus melibatkan siswa dalam sebuah program yang ada di kelas atau sekolah. Langkah yang harus dilaksanakan guru dalam upaya mendorong dan mempromosikan suara (voice), pilihan (choise) serta kepemilikan (ownership) di kelas maupun sekolah adalah dengan mengajak murid berdiskusi dan bermusyawarah dalam menentukan program kelas dan sekolah. Dengan memberikan kesempatan murid  untuk memilih bagaimana mereka mendemonstrasikan pemahamannya tentang apa yang telah mereka pelajari, Memberikan kesempatan pada murid untuk memilih dan mengambil peran yang dapat mereka ambil dalam sebuah kegiatan/program. Memberikan kesempatan murid untuk mengelola pengaturan kegiatan serta Memberikan murid kesempatan untuk memilih kelompok.

3. Findings (pembelajaran)

Pelajaran yang saya dapatkan dari kegiatan di modul 3.3 ini adalah peran seorang guru dalam membuat sebuah kepemimpin murid di kelas dan sekolah. Peran guru tidak hanya sekedar mengajar, atau memerintah murid, tetapi memiliki peran yang lebih besar yaitu mengajak murid untuk ikut peran serta secara aktif dalam membuat sebuah program kelasmaupun sekolah, merencanakan, melaksanakan, serta melakukan evaluasi program. Guru harus memberikan kesempatan yang sama kepada murid dalam hal mempromosikan suara (voice), pilihan (choise) serta kepemilikan (ownership) di kelasatau sekolah. Guru hanya bertugas melakukan pendampingan serta mengurangi kontrol kepada murid.

4. Future (Penerapan)

Langkah yang harus saya lakukan sebagai seorang guru di sekolah adalah mengajak rekan guru, kepala sekolah serta wali murid untuk saling berkolaborasi mewujudkan kepemimpin pembelaajaran yang berdampak pada murid. Saya harus melakukan identifikasi 7 kekuatan aset yang dimiliki oleh sekolah. Diantaranya modal manusia, modal fisik, modal sosial, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik serta modal agama dan budaya. Semua aspek biotik dan abiotik dalam komunitas sekolah harus saling berkolaborasi, melakukan komunikasi untuk menciptakan sebuah lingkungan sekolah yang aman, nyaman untuk kegiatan belajar murid. Misalkan di lingkungan sekolah saya yang dekat dengan persawahan, bisa dijadikan sebagai media pembelajaran anak didik sebagai tempat belajar sekaligus sebagai tempat berwisata. Mereka kita ajak berdiskusi tentang ekosistem sawah. Mereka kita dampingi dan kita ajak langsung ke sawah agar belajar secara langsung.

REFLEKSI TERBIMBING MODUL 3.3.A.6

 

REFLEKSI TERBIMBING MODUL 3.3.A.6 

Pada tahapan pembelajaran ini, ada banyak informasi penting yang saya dapatkan sampai pada titik ini. Modul dengan judul Kepemimpinan yang berdampak pada murid di isi dengan berbagai sumber-sumber yang menguatkan pemaham saya tentang arti pentingnya kepemimpinan murid di sekolah. Ada beberapa pertanyaan yang  menjadi bagian refleksi saya pada modul kali ini,diantaranya:

  1. Apa yang menarik bagi Anda setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid?
  2. Apa yang mengejutkan yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid? 
  3. Apa yang berubah yang akan Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?
  4. Apa yang menantang  bagi Anda untuk memahami apa yang disampaikan dalam modul ini?
  5. Sumber-sumber dukungan yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid.

1. Apa Yang Menarik bagi anda setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid?

Yang menarik bagi saya setelah mempelajari bagian ini adalah bahwasanya ada banyak pihak dan peran yang harus dilibatkan dalam sebuah penyusunan program. Kepala sekolah sebagai pemimpin di unit kerja diharapkan bisa membuat kreasi-kreasi baru, ide dalam melahirkan sebuah program yang tentunya program yang berpihak kepada murid. Peran seorang kepala sekolah memegang peran yang sentral, karena dengan kepemimpinan kepala sekolah yang kreatif serta bisa merangkul semua tenaga pendidik dan kependidikan serta aset - aset lain maka sebuah program yang dibuat akan bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan harapan.

Dengan membuat serta menyusun program yang berpihak kepada murid, akan  bisa menumbuhkembangkan disiplin positif yang dimiliki oleh murid sebagai profil pelajar pancasila. Dalam proses kepemimpinan murid dalam belajar perlu mengacu pada tiga aspek yang diharapkan bisa menumbuhkembangkan kepemimpinan murid yaitu Aspek Suara (Voice), Aspek PIlihan (Choice) dan Aspek Kepemilikian (ownership).

Suara (Voice) adalah pemberian kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai.

Pilihan (Choice) menurut beberpaa peneliti bahwa Memberikan pilihan pada murid dapat memberdayakan murid, mendorong keterlibatan  dan bisa meningkatkan motivasi yang tentunya akan berdampak positif pada tumbuh kembang murid.

Kepemilikan (Ownership) menumbuhkan rasa kepemilikan akan mengacu pada pada rasa keterhubungan ,keterlibatan murid dalam sebuah proses belajar.

Disamping ketiga aspek tersebut ada komunitas yang dapat membantu menumbuhkembangkan kepemimpinan murid diantaranya komunitas keluarga, Komunitas kelas/antar kelas, komunitas sekolah, Komunitas sekitar sekolah, Komunitas yang lebih luas. Keterlibatan komunitas ini akan berperan penting dalam mengembnagkan kepemimpinan sekolah, namun yang tak kalah pentingnya adalah kejelian dalam memilih program sekolah yang sudah disepakati dan bagaimana mengelolannya.

 

2. Apa yang mengejutkan yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid?

Yang mengejutkan yang saya temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid adalah bahwa peran keterlibatan murid nampak jelas dalam program tersebut. Mereka tidak lagi hanya menjadi objek, namun sudah menjadi subjek yang menjadi pengerak/agen dalam pembelajaran. Paradigma lama yang selama ini beranggapan bahwa murid itu hanya menerima saja apa yang diberikan oleh guru, namun sekarang paradigma itu sudah berubah yaitu murid menjadi berperan aktif, dan punya keberanian untuk menyatakan pendapat, ide-ide mereka sesuai dengan pilihan mereka, jadi peran guru hanya menjadi fasilitator serta mendampingi murid untuk mencapai pemahaman yang dimaksud.









3.Apa yang berubah yang akan Anda lakukan setelah memahami    atau mempelajari  materi ini?

Setelah melihat perkembangan yang murid dapatkan terkait dengan pemberdayaan mereka terhadap sebuah program. khususnya dalam pembelajaran maka saya mencoba  menerapkan ketiga aspek tersebut( Suara, PIlihan dan Kepemilikan) secara bertahap dalam proses pembelajaran, mulai dari hal sederhana penyusunan layout kelas, bentuk penugasan, kesepakatan kelas dan lain-lain. meskipun bukan hal yang mudah namaun, saya mencoba optimis dengan langkah/perubahan awal yang saya lakukan akan berdampak pada waktunya kelak.

4. Apa yang menantang  bagi Anda untuk memahami apa yang disampaikan dalam modul ini?

Yang menantang bagi saya tentunya bagaimana mengubah pola pikir (mindset) serta kebiasaan yang selama ini menjadi sebuah pola pikir dan kebiasaan, dalam hal ini perlu adanya kesempatan dan memberikan ruang kepada murid untuk menerapkan ketiga aspek yang menjadi pertimbangan bagi saya dalam memberdayakan murid (Suara, PIlihan dan Kepemilikan). Dengan memberikan ruang yang cukup kepada murid, maka akan dapat menumbuh kembangkan sifat positif bagi murid yang akan mereka praktekkan di ruang kelas,lingkungan sekolah maupun di lingkungan yang lebih luas lagi.

5. Sumber-sumber dukungan yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid.

Ada banyak sumber dukungan yang saya miliki untuk menyusun program yang berdampak pada murid, yaitu Kepala Sekolah selaku pembuat keputusan, Rekan tenaga Pendidik dan Kependidikan yang ada lingkungan sekolah, Murid, orangtua murid, lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah/masyarakat. Dengan berkolaborasi bersama sumber-sumber dukungan tersebut, maka saya punya keyakinan akan bisa menjalankan program yang berdampak pada murid