JURNAL REFLEKSI - MINGGU 16
(Model
Driscoll)
COACHING
M. AGUD IRWANTO, S.Pd
SD NEGERI 5 KATERBAN
CGP ANGKATAN 4 KABUPATEN NGANJUK
Pada
minggu ke-16 aktifitas pembelajaran yang terdapat dalam Learning Managemat
System (LMS) yang telah dilalui terdiri dari :
·
Demonstrasi Kontekstual
·
Elaborasi Pemahaman
·
Koneksi Antar Materi
·
Aksi Nyata
What
Pembelajaran
modul 2.3. memasuki tahap akhir, yaitu Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi
Pemahaman, Koneksi Antar Materi, dan Aksi Nyata. Pada tahap Demonstrasi
Kontekstual, saya melakukan praktik coaching dengan
rekan sejawat. Praktik coaching yang
saya lakukan masih belum melibatkan komunitas praktisi yang ada di sekolah.
Praktik berlangsung secara informal untuk menggali potensi rekan sejawat
sebagai coachee dalam menentukan komitmen diri
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Pada tahap akhir ini, ada sesi elaborasi
yang semakin menguatkan pemahaman saya terkait praktik coaching di sekolah kepada guru dan murid.
Pada
tahap elaborasi oleh instruktur, Monika Irayati, saya
mendapat tambahan wawasan terkait coaching.
Selain itu juga mendapat wawasan tentang paradigma pendampingan coaching sistem AMONG.
So What
Ada perasaan bahagia ketika akhirnya bisa melakukan
praktik coaching dengan rekan sejawat. Selain itu juga ada
rasa senang ketika mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak di sekolah
termasuk komunitas praktisi. Namun, terbersit juga perasaan khawatir apabila
ternyata hasil praktik coaching yang
saya lakukan menurut orang lain masih membutuhkan banyak perbaikan.
Saya rasa teman CGP lain pun memiliki perasaan yang
sama. Karena memang masih dalam tahap latihan. Meskipun demikian, saya
melakukannya dengan serius dan persiapan matang. Terlepas dari kekhawatiran
itu, setidaknya saya sudah berusaha melakukan praktik coaching dengan
sebaik-baiknya. Ada keyakinan perasaan seperti itu pada akhirnya akan perlahan
menghilang setelah melalui latihan. Hasil pengamatan pada diri sendiri
sebenarnya saya cenderung memiliki prinsip yang penting sudah dilakukan
sebaik-baiknya.
Dengan berlatih praktik coaching tersebut, ada hal
yang berubah. Terutama menyangkut pemahaman tentang coaching. Pada awal mempelajari materi sepertinya
coaching akan berat dilakukan. Namun, setelah dipraktikkan ternyata bisa. Ke
depannya saya menjadi lebih yakin akan lebih mudah karena semakin sering
latihan.
Now What
Melakukan hal baru membutuhkan kekuatan dan
kemampuan. Tidak terkecuali praktik coaching dalam
komunitas sekolah. Beruntung saat sesi praktik coaching di
sekolah, teman yang berperan sebagai coachee sangat
kooperatif. Mungkin akan berbeda jika rekan coachee saya
adalah murid. Tentu akan membutuhkan usaha lebih keras lagi dalam menggali
potensi dan informasi.
Oleh karena itu, agar lebih untuk itu saya harus belajar. Sesi elaborasi
dengan instruktur adalah saat yang tepat untuk menambah pemahaman. Saya
meyakini tambahan informasi dari instruktur akan sangat membantu saya nantinya saat
harus melakukan coaching kepada murid. Hal
baru adalah terkait penerapan coaching sebagai mindset dalam proses pembelajaran. Pada
dasarnya coaching sudah dilakukan, sehingga dengan
perubahan mindset dapat menjadikan coaching sebagai pembiasaan.
Pelaksanaan coaching dalam komunitas di sekolah tentu tidak bisa sendiri. Sebagai kegiatan yang kolaboratif, praktik coaching membutuhkan dukungan dari banyak pihak terkait. Bentuk dukungan yang saya harapkan adalah adanya masukan terhadap praktik coaching yang saya lakukan. Selain itu, dukungan berupa komitmen dari rekan sejawat untuk terus terlibat dalam kegiatan coaching. Baik itu sebagai coachee maupun coach. Ini merupakan dukungan utama agar praktik coaching menjadi budaya positif dalam komunitas di sekolah. Dukungan dari pihak sekolah juga sangat dibutuhkan dalam bentuk izin menyelenggarakan coaching maupun penguatan terhadap komunitas yang ada. Selain itu, dukungan dari orang tua berupa peran aktif memberikan laporan terkait permasalahan anaknya selama belajar di rumah.
Rencana terdekat adalah melakukan latihan coaching lagi dengan murid sebagai coachee. Hal ini saya lakukan agar setelah selesai mengikuti program ini akan mampu memiliki kompetensi coaching murid yang lebih baik. Sedangkan hal baik yang bisa saya bagi kepada rekan sejawat di sekolah adalah bahwa praktik coaching ini sangat membantu guru dan murid dalam menyelesaikan masalah oleh dirinya sendiri berdasarkan potensi yang dimiliki. Selain itu, dengan adanya jadwal berbagi dalam komunitas praktisi akan membuat praktik coaching ini sebagai budaya positif di sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar